Polda Sulsel Bongkar Mafia BBM di Makassar: Modus Licik Pakai Mobil Sampah, Negara Dirampok Sistematis
SUARASULAWEI.COM, MAKASSAR, SULAWESI SELATAN - Skandal mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali meledak di Sulawesi Selatan. Kali ini, praktik culas yang menggerogoti hak rakyat kecil itu dibongkar oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel, mengungkap jaringan terorganisir yang telah lama beroperasi di Gowa hingga Makassar—rapi, sistematis, dan diduga kuat melibatkan lebih dari sekadar pemain lapangan.
Dalam operasi tersebut, aparat mengamankan ML, sosok lama dalam pusaran distribusi gelap BBM subsidi asal Bajeng. Dari mulutnya, terkuak pola permainan klasik namun mematikan: BBM disedot dari sejumlah SPBU, lalu disalurkan ke tangan kanan jaringan, HD, figur yang kini menjadi episentrum perhatian publik.
Nama HD bukan sekadar muncul sebagai penghubung distribusi ilegal. Ia juga disorot karena sikapnya yang dianggap arogan dan menantang. Dalam sejumlah kesempatan, HD diduga terang-terangan meremehkan kerja jurnalis, bahkan melontarkan pernyataan kontroversial yang memantik kemarahan luas: ia mengklaim kebal hukum dan menyebut telah “membayar aparat”. Pernyataan ini bukan hanya provokatif, tapi juga menjadi sinyal bahaya terhadap integritas penegakan hukum.
Lebih jauh, HD bahkan disebut-sebut mengancam akan meretas media yang memberitakannya, sebuah tindakan intimidatif yang ironisnya datang dari seseorang yang mengaku sebagai aktivis. Klaim itu kini berbalik menjadi bumerang, memperkuat dugaan bahwa jaringan ini tidak sekadar bermain di lapangan, tetapi juga mencoba membungkam kontrol publik.
Pengembangan kasus bergerak cepat. Aparat meringkus HD bersama rekannya, AR, di kawasan TPA Antang. Keduanya diduga tengah menjalankan transaksi ilegal BBM subsidi dengan modus yang terbilang licik: memanfaatkan armada mobil sampah untuk mengangkut solar subsidi dari berbagai SPBU di Makassar. Kendaraan milik negara itu diduga disulap menjadi alat kamuflase guna menghindari kecurigaan aparat dan masyarakat.
Tak berhenti di situ, polisi turut mengamankan BM, sopir pribadi HD. Meski mengaku hanya menjalankan perintah, keterangannya membuka lapisan baru dalam kasus ini—indikasi adanya struktur komando yang lebih luas dan terorganisir. Penyidik juga menyita satu unit mobil tangki biru-putih milik HD yang diduga menjadi tulang punggung distribusi BBM ilegal dalam skala besar.
Kasubdit Tipidter Polda Sulsel, Jufri Natsir, menegaskan bahwa perkara ini telah naik ke tahap penyidikan. Ia juga meluruskan isu liar terkait pemulangan para pelaku. “Mereka memang diperbolehkan pulang sementara, tetapi proses hukum tetap berjalan. Senin (27/04), pemeriksaan dilanjutkan, dan penetapan tersangka disertai penahanan akan dilakukan karena alat bukti sudah lengkap,” tegasnya.
Kasus ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, ini adalah potret nyata bagaimana hak masyarakat kecil dirampas secara sistematis. Di tengah kelangkaan dan antrean panjang BBM subsidi, ada jaringan gelap yang mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan celah, bahkan diduga menyeret fasilitas negara.
Sorotan publik kini mengarah tajam pada dugaan penyalahgunaan armada sampah milik Pemerintah Kota Makassar. Kendaraan yang seharusnya melayani kebersihan kota justru dituding menjadi alat operasi mafia solar subsidi. Desakan pun menguat: aparat penegak hukum diminta tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi membongkar hingga ke akar, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan oknum dalam pengelolaan armada milik negara.
Polda Sulawesi Selatan menyatakan komitmennya untuk menindak tegas tanpa pandang bulu. Namun publik menanti lebih dari sekadar janji, mereka menuntut pembuktian bahwa hukum tidak tunduk pada mafia, dan negara benar-benar hadir melindungi hak rakyatnya.
Kasus ini menjadi alarm keras: di balik krisis BBM subsidi, ada permainan kotor yang selama ini berlangsung dalam senyap. Kini, tabir mulai tersingkap, dan pertanyaannya tinggal satu: seberapa dalam jaringan ini akan dibongkar?
Penulis : Safril
