Di Garis Depan Redam Konflik, Kapolsek Mamajang Jadi Korban Anak Panah Busur
SUARASULAWESI.COM, MAKASSAR – Dedikasi dan keberanian aparat kepolisian dalam menjaga keamanan masyarakat kembali diuji saat menghadapi konflik antarkelompok warga. Kapolsek Mamajang, AKP Tri Husada Wahyu Andromeda, S.T., menjadi korban terkena anak panah busur ketika memimpin langsung pasukan kepolisian untuk meredam bentrokan dan menghentikan aksi saling serang antarkelompok warga di kawasan Kakatua, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis dini hari (5/11/2026).
Bentrokan tersebut melibatkan dua kelompok warga yang diduga berasal dari Kakatua 2 Lorong 3 dan Kakatua 3 Lorong 4. Aksi saling serang yang kembali pecah pada malam hingga dini hari itu menciptakan situasi rawan dan mengancam keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Di tengah situasi yang memanas, AKP Tri Husada memimpin pasukan untuk mendekati lokasi bentrokan dan berupaya menghentikan aksi saling serang. Namun, saat menjalankan upaya pengendalian situasi tersebut, Kapolsek Mamajang justru terkena anak panah busur pada bagian betis kanan.
Tidak hanya Kapolsek Mamajang, seorang warga dari Kakatua 2 Lorong 3 juga dilaporkan menjadi korban terkena anak panah busur dalam insiden tersebut. Peristiwa ini memperlihatkan betapa berbahayanya aksi kekerasan menggunakan senjata berbahaya, yang tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga petugas kepolisian yang berada di garis depan menjaga keamanan.
Langkah AKP Tri Husada memimpin langsung pasukan untuk meredam konflik merupakan bagian dari upaya kepolisian mencegah bentrokan semakin meluas dan melindungi masyarakat dari ancaman kekerasan. Kehadiran aparat di tengah situasi konflik menjadi penting untuk mengendalikan keadaan, mencegah jatuhnya korban lebih banyak, serta memulihkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi kedua kelompok warga agar menghentikan aksi saling serang dan tidak melakukan tindakan balasan. Penyelesaian persoalan hendaknya mengedepankan dialog, komunikasi, serta keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda demi menjaga persaudaraan dan keharmonisan lingkungan.
Hingga berita ini disusun, informasi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan Kapolsek Mamajang dan warga yang menjadi korban, penyebab bentrokan, serta perkembangan penanganan kepolisian masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak terkait. Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Keamanan dan ketenteraman kawasan Kakatua merupakan tanggung jawab bersama. Diperlukan kesadaran, kedewasaan, serta komitmen seluruh elemen masyarakat untuk mengakhiri konflik dan membangun kembali suasana yang aman, damai, serta kondusif di wilayah Kecamatan Mamajang. (*Rz)
