BREAKING NEWS

Mapparenta Hasan: Menyuarakan Kesejahteraan Aparat dari Politik Akar Rumput

SUARASULAWESI.COM, MAKASSAR - Di tengah hiruk pikuk politik yang kerap dipenuhi janji dan perebutan kekuasaan, nama Mapparenta Hasan muncul sebagai figur politik lokal di Sulawesi Selatan yang memilih jalur berbeda. Ia tidak hadir dengan jargon besar atau manuver elit, melainkan dengan kepedulian sosial dan keberpihakan pada mereka yang jarang disorot—khususnya anggota TNI, Polri, dan keluarga mereka.

Bagi Mapparenta Hasan, politik bukan sekadar soal kursi dan jabatan. Politik adalah alat pengabdian. Prinsip inilah yang menjadi benang merah kiprahnya dalam ruang sosial dan politik lokal.

Berangkat dari Realitas Lapangan

Kedekatan Mapparenta Hasan dengan masyarakat membuatnya menyaksikan langsung berbagai persoalan sosial. Ia melihat bagaimana sebagian prajurit dan anggota Polri berpangkat rendah masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, bagaimana keluarga aparat harus berhemat demi pendidikan anak, dan bagaimana para purnawirawan hidup sederhana setelah puluhan tahun mengabdi pada negara.

Realitas inilah yang mendorongnya bersuara. Menurutnya, pengabdian tidak boleh dibalas dengan pengabaian. Negara, kata Mapparenta Hasan, harus hadir bukan hanya saat membutuhkan tenaga dan loyalitas aparat, tetapi juga saat mereka membutuhkan perlindungan dan kesejahteraan.

Mengangkat Isu yang Jarang Dibicarakan

Isu kesejahteraan TNI–Polri jarang menjadi topik utama dalam politik lokal. Namun Mapparenta Hasan justru menjadikannya sebagai agenda penting. Ia percaya bahwa aparat yang sejahtera akan bekerja lebih profesional, dan masyarakat pun akan merasakan dampaknya dalam bentuk keamanan dan ketertiban yang lebih baik.

Ia kerap menekankan pentingnya:

perhatian terhadap keluarga aparat,

jaminan sosial bagi purnawirawan,

serta pengakuan moral atas jasa TNI–Polri.


Narasi ini ia sampaikan melalui dialog, kegiatan sosial, dan pergaulan langsung dengan masyarakat—bukan lewat politik gaduh, tetapi politik empati.

Politik yang Membumi

Sebagai tokoh lokal, Mapparenta Hasan dikenal dengan pendekatan yang membumi. Ia hadir di tengah warga, mendengar keluhan, dan membangun komunikasi yang setara. Nilai budaya Sulawesi Selatan seperti sipakatau (saling memanusiakan) menjadi landasan dalam setiap langkahnya.

Pendekatan inilah yang membuat namanya dikenal bukan karena jabatan, melainkan karena kedekatan dan konsistensi sikap.

Lebih dari Sekadar Politik

Meski bukan tokoh nasional, kiprah Mapparenta Hasan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari pusat kekuasaan. Dari daerah, dari komunitas, dari isu-isu kemanusiaan, politik bisa dijalankan dengan cara yang lebih bermakna.

Baginya, memperjuangkan kesejahteraan aparat bukanlah sikap politis semata, melainkan tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat.

Penutup

Mapparenta Hasan menghadirkan wajah lain politik lokal—lebih tenang, lebih manusiawi, dan lebih peduli. Di saat banyak orang berbicara tentang kekuasaan, ia memilih berbicara tentang keadilan dan kesejahteraan.

Sebuah pengingat bahwa politik, pada akhirnya, adalah tentang manusia dan pengabdian.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image